Kebanyakan penduduk di sini bermata pencaharian sebagai petani sawah dan tanaman keras, juga bekerja sebagai karyawan kebun teh, PNS dan pedagang di pasar kecamatan. Sidamanik adalah sebuah wilayah yang menurut saya luar biasa bahkan mungkin tidak semua daerah lain memiliki potensi seperti ini. Tanahnya subur, udara sejuk, Air melimpah, dikelilingi oleh pegunungan yang di sebelah Utara dikenal dengan pegunungan Dolok Simbolon, di sebelah selatan dikenal dengan pegunugan dolok Simanuk manuk dan di sebelah barat pegunungan Simarjarunjung. Sidamanik juga dikelilingi oleh perkebunan raksasa milik PTPN IV sebuah perkebunan milik negara, yang hasil komoditinya banyak diekspor ke luar negeri. Ada Teh, kakao, dan Kelapa Sawit. Dahulu waktu zaman penjajahan Belanda, Sidamanik adalah daerah perkebunan Teh terbesar di Sumatera. Di kecamatan ini berdiri 4 pabrik teh yang mempekerjakan ribuan karyawan antara lain Pabrik Teh Sidamanik, Bah Butong, Toba Sari, dan Bah Birong Ulu. Sayang setelah zaman reformasi dan privatisasi BUMN, kebun teh ini dimerger dengan kebun Bah Jambi yang memproduksi kelapa Sawit. Karyawannya sekarang banyak yang di PHK, pensiun dini, dan ada yang dipindahkan ke kebun lain di daerah Kerinci Riau. Dahulu kebun Teh banyak menyerap tenaga kerja pemetik Teh, sekarang untuk memetik Teh sudah mempergunakan mesin. Untuk menyemprot pupuk dan pembasmi hama sudah memakai mesin. Semua sudah serba mesin.
Tidak heran sekarang bila pasar Sidamanik (disebut pekan) tidak seramai dulu. Sidamanik satu satunya pasar di Kabupaten simalungun yang memiliki hari pekan 2 kali dalam se
Bicara tentang Parapat saat ini bikin hati jadi miris. Dulu sewaktu masih ada penerbangan langung dari Eropa ke Medan yang dilayani maskapai penerbangan KLM milik Belanda, kota Parapat tidak pernah sepi pengunjung baik domestik mapun luar negeri. Sekarang, mau cari bule saja susahnya minta ampun. Zaman waktu saya SMA para bule bule yang di Parapat adalah objek gratis untuk melatih kemampuan bahasa inggris kita. Tak heran dulu banyak menjamur les / kursus bahasa inggris di kota Pematang Siantar. Hotel hotel bertaraf Internasional yang banyak berdiri di Parapat lebih sering dipakai untuk acara pertemuan2 saja. Bahkan sudah ada yang mulai gulung tikar. Konon Hutomo mandala Putra (Tommy Suharto) juga punya hotel di sana namanya Hotel Niagara. Memang, di sana pernah dibuat pertemuan Gubernur se dunia yang katanya dihadiri juga oleh Arnold Schwarzeneger (gubernur California USA), yang tujuannya sekaligus memperkenalkan Parapat ke dunia Internasional.
Kembali ke Sidamanik, sekarang masyarakat di sana lagi senang senangnya menanam Kopi. Istilahnya menurut oarang orang di sana KOPI SIGALAR UTANG (Kopi Pembayar Hutang). Kenapa disebut begitu, karena Kopi ini adalah varietas baru yang mampu panen dalam waktu singkat, tidak seperti kopi Robusta zaman dulu. Perawatannya mudah, dan harganya juga lumayan bagus. Menun
Kebun teh juga sering menjadi tempat bermain saya sewaktu kecil. Asyiknya di sana adalah bisa bermain sepeda sepuasnya tanpa takut ketabrak kendaraan bermotor, mencari belalang, bermain petak umpet, dan mencari benalu teh yang berkhasiat untuk obat. Saya juga sering membantu orang tua mencari kayu bakar di sini. Dahulu penduduk Sidamanik selalu memanfaatkan ranting kayu Teh sebagai bahan bakar di dapur. Setiap waktu tertentu, tanaman teh selalu dipangkas agar tidak tinggi menjulang. Ini adalah saat yang tepat untuk marsoban (mencari kayu). Sambil mencari kayu kami juga tak lupa membawa bekal makanan dari rumah, bisa nasi dengan lauk seadanya, atau jagung rebus dan kacang. Hmmm nikmat bila dimakan di tengah kebun Teh yang sejuk, apalagi bila perginya ramai ramai dengan teman.
Sidamanik memang tak terlupakan, banyak hal yang bisa diingat, banyak tempat yang berkesan, dan banyak kejadian yang bisa diceritakan. Tunggulah, nanti akan kuceritakan lagi.

Hal yang tak akan bisa dialami oleh anak saya.
Batam, 7 Oktober 2008
Juli Abet Simbolon